Cyberpsychology merupakan sebuah dunia yang terstruktur oleh mesin
daripada lingkungan fisik. Di dalam
dunia ini, terdapat iklim sosial dan fitur psikologis yang unik, seperti
memberikan kesempatan atas fleksibilitas identitas pemakainya, anonimitas, kesamaan
status sosial, kemampuan untuk menjalin hubungan bukan hanya dengan sesama user
di Negara yang sama tempat user berasal tapi siapapun user dan darimana saja
user itu berasal, juga terjadi proses sharing antar-user baik itu pengalaman
pribadi, informasi tentang dunia, maupun perkembangan teknologi dan science,
dan masih banyak lagi untuk disebutkan. Sebagai realitas virtual, terbentang
luas mulai dari pengalaman tatap muka melalui webcams sampai avatar yang
imajinatif dan dapat bersifat anthropomorphize.
Bagaimana realitas seseorang yang berubah di dunia maya memiliki
daya tarik sendiri dalam pembahasan ini. Seseorang bisa saja memilih role yang
unik, yang mungkin saja berbeda atau malahan bertolak-belakang dari dalam
kehidupan “nyata”. Misalnya, seseorang dapat menjadi peri biru yang selalu
menjadi penengah ketika ada konflik di dalam sebuah komunitas online.
Anonimitas tercipta karena kelangkaan akan isyarat tatap muka di lingkungan
berbasis online, termasuk chat room dan e-mail, juga memberikan kesempatan
untuk mengekspresikan diri, bereksperimen dengan cara-cara yang baru untuk
menghadirkan identitas ‘seseorang’. Orang-orang bahkan dapat mengganti jenis
kelamin, dan memperlihatkan kepribadian yang berbeda dari realitas nyata.
Setiap orang diperkenankan untuk memilih siapa-siapa yang akan menjadi mutuals.
Sebagai contoh, seseorang menciptakan sebuah akun cyber yang biasanya
menggunakan nama panggilan, foto profil, dan deskripsi diri yang bukan menurut
realita identitasnya, menyatakan ketertarikannya atas seorang penyanyi dan
mengklaim penyanyi tersebut sebagai ‘idola’, memilih mutuals yang memiliki
interest pada penyanyi tersebut. Hal inilah yang disebut dengan Social
Multiplicity, yang akan dibahas lebih lanjut dalam pembahasan kali ini.
Menghubungi orang-orang dari semua lapisan masyarakat menjadi
relatif mudah. Menurut Suler (1996), apa yang disebut dengan Social
Multiplicity adalah dengan seseorang memposting pesan di dalam blog, papan
diskusi, atau jejaring sosial—yang dibaca oleh banyak users—orang dapat menarik
diri orang lain yang memiliki minat yang mirip atau bahkan sama yang bersifat
esoteris (batiniah). Dengan menggunakan search engine, mereka dapat memindai
melalui jutaan halaman untuk memperbesar perhatian mereka terhadap orang dan
kelompok tertentu. Internet akan menjadi lebih kuat dan efektif sebagai alat
untuk mencari, menyaring, dan menghubungi orang dan kelompok tertentu.
Kemampuan seseorang untuk menyaring banyak kemungkinan di internet dengan
tujuan mengembangkan hubungan ini memperkuat fenomena interpersonal yang
menarik dan terkenal bagi para psikolog. Seorang user akan bertindak atas dasar
motivasi tidak sadar—serta preferensi dan pilihan sadar—dalam memilih teman,
kekasih, dan musuh. “Transferensi” ini mengarahkan kita pada jenis orang
tertentu yang menangani emosi dan kebutuhan kita. Ditekan oleh harapan,
keinginan, dan ketakutan yang tersembunyi, mekanisme penyaringan tidak sadar
ini memiliki sebuah pilihan alternative ‘toko permen online’ yang hampir tidak
terbatas untuk dipilih. Seperti yang pernah dialami seorang user, “kemanapun saya pergi di dunia maya, saya
terus berlari ke jenis orang yang sama!" .
Yang lain berkata, "Kemanapun saya pergi, saya menemukan ....
AKU!"
Apa yang terjadi pada seseorang dengan user ID @ohmaigateu,
menegaskan bahwa Social Multiplicity benar terjadi di jejaring sosial. User
yang memilih “Ttuing Ttuing” sebagai tampilan nama di profilnya ini, sudah
setahun terakhir mengoperasikan account miliknya. Ttuing mengklaim bahwa
account yang dimilikinya adalah sebuah fangirling account. Fangirling diambil
dari kata fangirl menurut www.yourdictionary.com yang berarti “a girl or woman
who is ardently devoted to a single hobby or interest” atau seorang perempuan
atau wanita yang penuh semangat setia pada sebuah hobi atau ketertarikan.
Ketertarikan yang Ttuing tunjukkan melalui fangirling account-nya adalah
tentang sekelompok laki-laki yang berasal dari Korea Selatan yang bernama
SEVENTEEN. Melalui search tab, Ttuing memasukkan kata kunci seperti nama-nama
dari anggota boy group tersebut, dan hasilnya akan muncul untuk kemudian Ttuing
memilih users yang akan menjadi mutual-nya. “aku biasanya membuka profil orang
satu persatu, terus aku liat deh posts dia tentang SEVENTEEN, kalau menurut aku
nantinya dia bakal nyambung kalau ngomongin SEVENTEEN, aku follow dan coba
ngobrol sama dia” ungkap Ttuing, yang kemudian menambahkan “aku lebih nyari
mutual yang sesama Carats—sebutan untuk
fans dari SEVENTEEN—, yang enak diajak ngobrol, atau users yang gak sering
nge-retweet hal-hal yang aku gak suka”. Ttuing mengaku, bahwa ia lebih nyaman
berbicara dengan orang-orang yang sering berinteraksi dengan dia dan
orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama dengan dirinya.
Melalui pernyataan dari seorang user di sebuah jejaring sosial yang
biasa dipanggil Ttuing, dapat disimpulkan bahwa apa yang dilakukan Ttuing dalam
memilih mutual di fangirling account miliknya sesuai dengan Social Multiplicity
yaitu dengan menggunakan search engine, mereka dapat memindai melalui jutaan halaman
untuk memperbesar perhatian mereka terhadap orang dan kelompok tertentu. Ketika
Ttuing berusaha mencari mutual yang sesuai dengan yang ia sukai dan
ketertarikannya, hal ini cocok dengan apa yang dialami oleh seorang user di
dunia maya yang mengatakan, “kemanapun saya pergi di dunia maya, saya terus
berlari ke jenis orang yang sama!"
dan user lain yang mengatakan, "kemanapun saya pergi, saya
menemukan .... AKU!" (Suler, 1996)
Sumber
:
http://shela124.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar