Asal Mula Kehidupan Di Bumi
A.
Teori-Teori Tentang Proses Terbentuknya Bumi
1.
Teori Kontraksi
(Contraction Theory)
Teori Kontraksi
dikemukan oleh Rene Descrates (1596-1650). Descrates menyatakan bahwa bumi
semakin lama semakin menyusut dan mengerut karena pendinginan. Proses
pendinginan ini membentuk relief dipermukaan bumi seperti gunung, lembah, dan
dataran. Pendukung teori ini adalah James Dana (1847) dan Elie de Baumant
(1852). Mereka berpendapat bahwa bumi mengalami pengerutan karena terjadi
proses pendinginan dibagian dalam bumi. Persistiwa tersebut mengakibatkan
bagian permukaan bumi mengerut membentuk pegunungan dan lembah-lembah.
2.
Teori Dua Benua
(Laurasia-Gondawana Theory)
Teori dua benua sering
dikenal dengan teori Laurasia Gondawana. Teori ini dikemukaan oleh Zuess
(1884). Zuess menyatakan bahwa bumi pada awalnya terdiri atas dua benua sangat
besar, Yaitu Laurasia disekitar kutub utara dan Gondawana disekitar kutub
selatan. dua benua tersebut bergerak perlahan ke arah ekuator dan terpecah
menjadi benua-benua kecil. Laurasia terpecah membentuk daratan Eropa, Asia,
Amerika Utara, dan Greenland. Gondawan terpecah membentuk menjadi Amerika
Selatan, India, Australia, Afrika, dan Antartika.
3.
Teori Apungan
Benua (Continental Drift Theory)
Teori apungan benua
adalah bahwa pada awalnya di Bumi hanya ada satu benua, yaitu Pangaea, dan
satuan lautan, yaitu lautan Tethys. Pangaea terpecah menjadi beberapa benua dan
bergerak. Gerak rotasi bumi secara sentrifugal mengakibatkan benua-benua bergerak
kearah barat menuju ekuator.
Beberapa bukti pergerakan
benua menurut teori apungan benua sebagai berikut.
·
Ada persamaan
garis kontur pantai timur benua Amerika Utara, dan Amerika Selatan dengan garis
kontur pantai barat Benua Eropa dan Afrika.
·
Derah Greenland
menjauhi Eropa dan Afrika.
·
Pulau Madagaskar
menjauhi Afrika Selatan.
·
Ada kegiatan
seismik dipatahan San Andreas.
·
Samudra Atlantik
semakin luas karena pergerakan Benua Amerika ke Barat.
·
Batas Samudra
Hindia semakin mendesak semakin utara.
4.
Teori Konveksi
(Convection Theory)
Teori konveksi
dikemukakan oleh Arthur Holmes dan Harry H. Hess, kemudian dikembangkan oleh
Robert Diesz, mereka menyatakan bahwa didalam bumi yang sangat panas terjadi
arus konveksi kearah kulit bumi. Saat arus konveksi membawa materi lava sampai kepermukaan
bumi, lava tersebut akan membeku membentuk lapisan kulit lapisan kulit bumi
yang baru. Lapisan baru tersebut menggeser dan menggantikan kulit bumi yang
lebih tua. Beberapa bukti tentang teori
konveksi sebagai berikut:
·
Terbentuk
pematang tengah samudra seperti Mid Atlantic Ridge dan Pacific Ridge.
·
Semakin jauh
dari punggung tengah samudra, semakin tua umur batuan nya kondisi ini
menunjukan bahwa terdapat gerakan yang berasal dari Mid Oceanic Ridge ke arah
berlawanan. peristiwa ini disebabkan adanya arus konveksi dari lapisan dibawah
kulit bumi.
5.
Teori Lempeng
Tektonik (Plate Tectonic Theory)
Teori ini muncul
setelah Alferd Lothar Wegener seorang ahli meteorologi dan geologi dari Jerman.
Wegener mengemukakan bahwa benua yang padat sebenarnya terapung dan bergerak
diatas massa yang relatif lembek. Kerak bumi terdiri atas lempeng-lempeng
tektonik yang seolah mengapung, bergerak, bergeser diatas lapisan inti bumi
yang cair, sangat panas, dan selalu bergolak. pergolakan magma didalam bumi
menyebabkan benua-benua bergeser.
B.
Perbedaan Teori Abiogenesis dan Biogenesis
1.
Abiogenesis
Abiogenesis adalah
kepercayaan kuno tentang asal usul kehidupan. Hal ini juga dikenal sebagai
teori generasi spontan kehidupan. Teori abiogenesis menyatakan bahwa asal-usul
makhluk hidup adalah karena zat tak hidup, atau itu adalah insiden spontan.
Namun, sampai sekarang para ilmuwan telah mampu mencapai teori ini dengan
eksperimen.
2.
Biogenesis
Biogenesis adalah teori
yang diterima saat ini mengenai asal usul kehidupan baru. Teori biogenesis
menyatakan bahwa asal usul kehidupan adalah karena sel-sel hidup yang sudah ada
sebelumnya atau organisme. Louis Pasteur, Francesco Reddy, dan Lazzaro
Spallanzani eksperimen yang membuktikan teori ini.
Perbedaan
Abiogenesis dan Biogenesis
Abiogenesis menyatakan bahwa asal usul kehidupan
adalah karena bahan tak hidup lain, atau merupakan mekanisme spontan, sedangkan
biogenesis mengungkapkan bahwa asal usul kehidupan adalah karena organisme
hidup lain yang sudah ada sebelumnya atau sel.
C.
Percobaan-Percobaan yang Dilakukan Ilmuwan Pencetus
Teori Asal Mula Kehidupan Di Bumi
1.
TEORI
ABIOGENESIS
a)
Aristoteles
Aristoteles (384-322
SM) adalah seorang filosof dan tokoh ilmu pengetahuan Yunani Kuno. Teori ini
menyatakan bahwa makhluk hidup yang pertama kali menghuni bumi ini berasal dari
benda mati.
Sebenarnya Aristoteles mengetahui bahwa telur-telur
ikan apabila menetas akan menjadi ikan yang sifatnya sama seperti induknya.
Telur-telur tersebut merupakan hasil perkawinan dari induk-induk ikan. Walau
demikian, Aristoteles berkeyakinan bahwa ada ikan yang berasal dari Lumpur.
Menurut abiogenesis,
makhluk hidup terjadi begitu saja atau secara spontan. Teori abiogenesis ini
disebut juga paham generation spontaneae.
Jika abiogenesis dan
generation spontanea kita gabungkan, arti dari paham ini adalah makhluk hidup
yang pertama kali di bumi dari benda mati/tak hidup yang terjadi secara
spontan, Contoh :
·
Ikan dan katak
berasal dari Lumpur.
·
Cacing berasal
dari tanah, dan
·
Belatung berasal
dari daging yang membusuk.
Paham abiogenesis bertahan cukup lama, yaitu semenjak
zaman Yunani Kuno (Ratusan Tahun Sebelum Masehi) hingga pertengahan abad ke-17.
b)
Antonie Van
Leeuwenhoek
Pada pertengahan abad
ke-17, Antonie Van Leeuwenhoek menemukan mikroskop sederhana yang digunakan
untuk mengamati benda-benda aneh yang amat kecil yang terdapat pada tetesan air
rendaman jerami. Oleh para pendukung paham abiogenesis, hasil pengamatan
Antonie Van Leeuwenhoek ini seolah-olah memperkuat pendapat mereka.
2.
TEORI BIOGENESIS
Orang -orang yang ragu
terhadap kebenaran paham abiogenesis terus mengadakan penelitian memecahkan
masalah tentang awal mula kehidupan. Orang-orang yang tidak puas terhadap
pandangan Abiogenesis itu antara lain Francesco Redi (Italia, 1626-1799), Lazzaro
Spallanzani ( Italia, 1729-1799), dan Louis Pasteur (Prancis, 1822-1895). Berdasarkan
hasil penelitian dari tokoh-tokoh ini, akhirnya paham Abiogenesis / generation
spontanea menjadi pudar karena paham tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya.
a)
Percobaan
Francesco Redi (1626-1697)
Francesco Redi
mengadakan percobaan. Pada percobaannya Redi menggunakan bahan tiga potong
daging dan tiga stoples. Percobaan Redi selengkapnya adalah sebagai berikut:
·
Stoples I : diisi dengan sepotong daging, ditutup
rapat-rapat.
·
Stoples II : diisi dengan sepotong daging, ditutup
menggunakan kain kasa
·
Stoples III : diisi dengan sepotong daging, di biarkan
terbuka.
Selanjutnya ketiga
stoples tersebut diletakkan pada tempat yang aman. Setelah beberapa hari,
keadaan daging dalam ketiga stoples tersebut diamati. Dan hasilnya sebagai
berikut:
·
Stoples I : Daging tidak busuk dan pada daging ini
tidak ditemukan
jentik / larva atau belatung lalat.
·
Stoples II : Daging tampak membusuk dan di atas kain
kasa
ditemukan banyak larva
atau belatung lalat.
·
Stoples III : Daging tampak membusuk dan banyak di
temukan larva
atau belatung lalat di
dalamnya
Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Francesco redi
menyimpulkan bahwa larva atau belatung yang terdapat dalam daging busuk di
stoples II dan III bukan terbentuk dari daging yang membusuk, tetapi berasal
dari telur lalat yang ditinggal pada daging ini ketika lalat tersebut hinggap
disitu. Hal ini akan lebih jelas lagi, apabila melihat keadaan pada stoples II,
yang tertutup kain kasa. Pada kain kasa penutupnya ditemukan lebih banyak
belatung, tetapi pada dagingnya yang membusuk belatung relative sedikit.
b)
Percobaan
Lazzaro Spallanzani ( 1729-1799 )
Sebagai bahan
percobaannya, Spallanzani menggunakan air kaldu atau air rebusan daging dan dua
buah labu. Adapun percoban yang yang dilakukan Spallanzani selengkapnya adalah
sebagai berikut:
·
Labu I : diisi air 70 cc air kaldu, kemudian dipanaskan
15°C selama
beberapa menit dan dibiarkan tetap
terbuka.
·
Labu II : diisi
70 cc air kaldu, ditutup rapat-rapat dengan sumbat
gabus. Pada daerah pertemuan antara
gabus dengan mulut labu diolesi paraffin cair agar rapat benar. Selanjutnya,
labu dipanaskan.selanjutnya, labu I dan II didinginkan. Setelah dingin keduanya
diletakkan pada tempat terbuka yang bebas dari gangguan hewan dan orang.
Setelah lebih kurang satu minggu, diadakan pengamatan terhadap keadaan air
kaldu pada kedua labu tersebut.
Hasil percobaannya adalah sebagai berikut:
·
Labu I : air kaldu mengalami perubahan, yaitu airnya
menjadi
bertambah keruh dan baunya menjadi tidak
enak. Setelah diteliti ternyata air kaldu pada labu I ini banyak mengandung
mikroba.
·
Labu II : air
kaldu labu ini tidak mengalami perubahan, artinya tetap
jernih seperti semula, baunya juga tetap
serta tidak mengandung mikroba. Tetapi, apabila labu ini dibiarkan terbuka
lebih lama lagi, ternyata juga banyak mengandung mikroba, airnya berubah
menjadi lebih keruh serta baunya tidak enak (busuk).
Berdasarkan hasil
percobaan tersebut, Lazzaro Spallanzani menyimpulkan bahwa mikroba yang ada
didalam kaldu tersebut bukan berasal dari air kaldu (benda mati), tetapi
berasal dari kehidupan diudara. Jadi, adanya pembusukan karena telah terjadi
kontaminasi mikroba dari udara ke dalam air kaldu tersebut.
Pendukung paham
Abiogenesis menyatakan keberatan terhadap hasil eksperimen Lazzaro Spallanzani
tersebut. Menurut mereka untuk terbentuknya mikroba (makhluk hidup) dalam air
kaldu diperlukan udara. Dengan pengaruh udara tersebut terjadilah generation
spontanea.
c)
Percobaan Louis
Pasteur (1822-1895)
Pasteur melaksanakan
percobaan untuk menyempurnakan percobaan Lazzaro Spallanzani. Dalam
percobaanya, Pasteur menggunakan bahan air kaldu dengan alat labu leher angsa.
Langkah-langkah percobaan Pasteur selengkapnya adalah sebagai berikut:
·
Langkah I : labu
disi 70 cc air kaldu, kemudian ditutup rapat-rapat
dengan gabus. Celah antara gabus dengan
mulut labu diolesi dengan paraffin cair. Setelah itu pada gabus tersebut dipasang
pipa kaca berbentuk leher angsa. Lalu, labu dipanaskan atau disterilkan.
·
Langkah II : selanjutnya labu didinginkan dan diletakkan
ditempat
yang aman. Setelah beberapa hari,
keadaan air kaldu diamati. Ternyata air kaldu tersebut tetep jernih dan tidak
mengandung mikroorganisme.
·
Langkah III :
labu yang air kaldu didalamnya tetap jernih dimiringkan
sampai air kaldu didalamnya mengalir kepermukaan
pipa hingga bersentuhan dengan udara. Setelah itu labu diletakkan kembali pada
tempat yang aman selama beberapa hari. Kemudian keadaan air kaldu diamati lagi.
Ternyata air kaldu didalam labu meanjadi busuk dan banyak mengandung
mikroorganisme.
Melaui pemanasan terhadap perangkat percobaanya,
seluruh mikroorganisme yang terdapat dalam air kaldu akan mati. Disamping itu,
akibat lain dari pemanasan adalah terbentuknya uap air pada pipa kaca berbentuk
leher angsa. Apabila perangkat percobaan tersebut didinginkan, maka air pada
pipa akan mengembun dan menutup lubang pipa tepat pada bagian yang berbentuk
leher. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya mikroorganisme yang bergentayangan
diudara untuk masuk kedalam labu. Inilah yang menyebabkan tetap jernihnya air
kaldu pada labu tadi.
Pada saat sebelum pemanasan, udara bebas tetap dapat
berhubungan dengan ruangan dalam labu. Mikroorganisme yang masuk bersama udara
akan mati pada saat pemanasan air kaldu.
Setelah labu dimiringkan hingga air kaldu sampai
kepermukaan pipa, air kaldu itu akan bersentuhan dengan udara bebas. Disini
terjadilah kontaminasi mikroorganisme. Ketika labu dikembalikan keposisi semula
(tegak), mikroorganisme tadi ikut terbawa masuk. Sehingga, setelah labu
dibiarkan beberapa beberapa waktu air kaldu menjadi akeruh, karena adanya
pembusukan oleh mikrooranisme tersebut. Dengan demikian terbuktilah ketidak
benaran paham Abiogenesis atau generation spontanea, yangmenyatakan bahwa
makhluk hidup berasal dari benda mati yang terjadi secara spontan.
Berdasarkan hasil percobaan Redi, Spallanzani, dan
Pasteur tersebut, maka tumbanglah paham Abiogenesis, dan munculah paham/teori
baru tentang awal mulamakhluk hidup yang dikenal dengan teori Biogenesis. Teori
itu menyatakan :
Ø Omne vivum ex ovo = setiap makkhluk hidup berasal
dari telur.
Ø Omne ovum ex vivo = setiap telur berasal dari
makhluk hidup, dan
Ø Omne vivum ex vivo = setiap makhluk hidup berasal
dari makhluk hidup sebelumnya.
Walaupun
Louis Pasteur dengan percobaannya telah berhasil menumbangkan paham Abiogenesis
atau generation spontanea dan sekaligus mengukuhkan paham Biogenesis, belum
berarti bahwa masalah bagaimana terbentuknya makhluk hidup yang pertama kali
terjawab.
3.
TEORI EVOLUSI
KIMIA
Ketidakpuasan para Ilmuwan terhadap apa yang
dikemukakan para tokoh teori Abiogenesis maupun Biogenesis mendorong para
Ilmuwan lain untuk terus mengadakan penelitian tentang awal mulakehidupan.
Antara pakar-pakar tersebut antara lain : Harold Urey, Stanley Miller, dan
A.I.Oparin. mereka berpendapat bahwa organisme terbentuk pertama kali di bumi
ini berupa makhluk bersel satu. Selanjutnya makhluk tersebut mengalami evolusi
menjadi berbagai jenis makhluk hidup seperti Protozoa, Porifera, Coelenterata,
Mollusca, dan lain-lain.
Para pakar biologi, astronomi, dan geologi sepakat,
bahwa planet bumi ini terbentuk kira-kira antara 4,5-5 miliar tahun yang lalu.
Keadaan pada saat awal terbentuknya sangat berbeda dengan keadaan pada saat
ini. Pada saat itu suhu planet bumi diperkirakan 4.000-8.000°C. pada saat mulai
mendingin, senyawa karbon beserta abeberapa unsur logam mengembun membentuk
inti bumi, sedangkan permukaannya tetap gersang, tandus, dan tidak datar.
Karena adanya kegiatan vulkanik, permukaan bumi yang masih lunak tersebut
bergerak dan berkerut terus menerus. Ketika mendingin, kulit bumi tampak
melipat-lipat dan pecah.
Pada saat itu, kondisi atmosfer bumi juga berbeda
denagn kondisi saat ini. Gas-gas ringan seperti Hidrogen (H2), Nitrogen (N2),
Oksigen (02), Helium (He), dan Argon (Ar) lepas meninggalkan bumi akrena gaya
gravitasi bumi tidak mampu manahannya. Dia atmosfer juga terbentuk
senaywa-senyawa sederhana yang mengandung unsure-unsur tersebut, seperti uap
air (H20), Amonia (NH3), Metan (CH4), dan Karbondioksida (C02). Senyawa
sederhana tersebut tetap berbentuk uap dan tertahan dilapisan atas atmosfer.
Ketuika suhu atmosfer turun sekitar 100°C terjadilah hujan air mendidih.
Peristiwa ini berlangsung selama ribuan tahun. Dalam keadaan semacam ini pasti
bumi saat itu belum dihuni kehidupan. Namun, kondisi semacam itu memungkinkan
berlangsungnya reaksi kimia, karena teredianya zat (materi) dan energi yang
berlimpah.
Timbul pertanyaan, bagaimana proses terjadinya
kehidupan dibumi ini ? Pwertanyaan inilah yang mendorong beberapa Ilmuwan untuk
mengemukakan pendapat serta melakukan experiment. Di antara Ilmuwan tersebut
antara lain Harold Urey dan Stanley Miller.
a)
Teori Evolusi
Kimia Menurut Harold Urey (1893)
Harold Urey adalah ahli
Kimia berkebangsaan Amerika Serikat. Dia menyatakan bahwa pada suatu saat
atmosfer bumi kaya akan molekul zat seperti Metana (CH4), Uap air (H20),
Amonia(NH2), dan karbon dioksida (C02) yang semuanya berbentuk uap. Karena
adanya pengaruh energi radiasi sinar kiosmis serta aliran listrik halilintar
terjadilah reaksi diantara zat-zat tersebut menghasilkan zat-zat hidup. Teori
evolusi Kimia dari Urey tersebut biasa dikenal dengan teori Urey.
Menurut Urey, zat hidup
yang pertama kali terbentuk mempunyai susunan menyerupai virus saat ini. Zat
hidup tersebut selama berjuta-juta tahun mengalami perkembangan menjadi
berbagai jenis makhluk hidup. Menurut Urey, terbentuknya makhluk hidup dari
berbagai molekul zat di atmosfer tersebut didukung kondisi sebagai berikut:
·
kondisi 1 :
tersedianya molekul-molekul Metana, Amonia, Uap air, dan hydrogen yang sangat
banyak di atmosfer bumi
·
kondisi 2 :
adanya bantuan energi yang timbul dari aliran listrik halilintar dan radiasi
sinar kosmis yang menyebabkan zat-zat tersebut bereaksi membentuk molekul zat
yang lebih besar,
·
kondisi 3 :
terbentuknya zat hidup yang paling secerhana yang susunan kimianay dapat
disamakan dengan susunan kimia virus, dan
·
kondisi 4 :
dalam jangka waktu yang lama (berjuta-juta tahun), zat idup yang terbentuk tadi
berkembang menjadi seejnis organisme (makhluk hidup yang lebih kompleks).
b)
Eksperimen
Stanley Miller
Miller adalah murid
Harold Urey yang juga tertarik terhadap masalah awal mulakehidupan. Didasarkan
informasi tentang keadaan planet bumi saat awal terbentuknya, yakni tentang
keadaan suhu, gas-gas yang terdapat pada atmosfer waktu itu, dia mendesain
model alat laboratorium sederhana yang dapat digunakan untuk membuktikan
hipotesis Harold Urey.
Kedalam alat yang
diciptakannya, Miller memasukan gas Hidrogen, Metana, Amonia, dan Air. Alat, tersebut
juaga dipanasi selama seminggu, sehingga gas-gas tersebut dapat bercampur
didalamnya. Sebagai pengganti energi aliran listrik halilintar, Miller
mengaliri perangkat alat tersebut dengan loncatan listrik bertegangan tinggi.
Adanya aliran listrik bertegangan tinggi tersebut menyebabkan gas-gas dalam
alat Miller bereaksi membentuk suatu zat baru. Kedalam perangkat juga dilakukan
pendingin, sehingga gas-gas hasil reaksi dapat mengembun.
Pada akhir minggu,
hasil pemeriksaan terhadap air yang tertampung dalam perangkap embun dianalisis
secar kosmografi. Ternyata air tersebut mengandung senyawa organic sederhana,
seperti asam amino, adenine, dan gula sederhana seperti ribose. Eksperimen
Miller ini dicoba beberapa pakar lain, ternyata hasilnya sama. Bial dalam
perangkat eksperimen tersebut dimasukkan senyawa fosfat, ternyata zat-zat yang
dihasilkan mengandung ATP, yakni suatu senyawa yang berkaitan dengan transfer
energi dalam kehidupan. Lembaga cpenelitian lain, dalam penelitiannya
menghasilkan senyawa-senyawa nukleotida.
Nukleotida adalah suatu
senyawa penyusun utama ADN (Asam Deoksiribose Nukleat) dan ARN (Asam Ribose
Nukleat), yaitu senaywa khas dalam inti sel yang mengendalikan aktivitas sel
dan pewarisan sifat.
Eksperimen Miller dapat
memberiakn petunjuk bahwa satuan- satuan kompleks didalam sistem kehidupan
seperti Lipida, Karbohidrat, Asam Amino, Protein, Mukleotida dan lain-lainnya
dapat terbentuk dalam kondisi abiotik. Teori yang terus berulang kali diuji ini
diterima para ilmuwan secara luas. Namun, hingga kini masalah utama tentang
asal-usul kehidupan tetap merupakan rahasia alam yang belum terjawab. Hasil
yang mereka buktikan barulah mengetahui terbentuknya senyawa organik secara
bertahap, yakni dimulai dari bereaksinya gas-gas diatmosfer purba dengan energi
listrik halilintar. Selanjutnay semua senyawa tersebut bereaksi membentuk
senyawa yang lebih kompleks dan terkurung dilautan. Akhirnay membentuk senyawa
yang merupakan komponen sel.
4.
TEOI EVOLUSI
BIOLOGI
Alexander Oparin adalah
Ilmuwan Rusia. Didalam bukunya yang berjudul The Origin of Life (Awal mula
Kehidupan). Oparin menyatakan bahwa paad suatu ketika atmosfer bumi kaya akan
senyawa uap air, C02, CH4, NH3, dan Hidrogen. Karena adanya energi radiasi
benda-benda angkasa yang amat kaut, seperti sinar Ultraviolet, memungkinkan
senyawa-senyawa sederhana tersebut membentuk senyawa organik atau senyawa
hidrokarbon yang lebih kompleks. Proses reaksi tersebut berlangsung dilautan.
Senyawa kompleks yang
mula-mula terbentuk diperkirakan senyawa aseperti Alkohol (H2H5OH), dan senyawa
asam amino yang paling sederhana. Selama berjuta-juta tahun, senyawa, sederhana
.tersebut bereaksi membenrtk senyawa yang lebih kompleks, Gliserin, Asam
organik, Purin dan Pirimidin. Senyawa kompleks tersebut merupakan bahan pembentuk
sel.
Menurut Oparin senyawa
kompleks tersebut sangat berlimpah dilautan maupun di permukaan daratan. Adanya
energi yang berlimpah, misalnya sinar Ultraviolet, dalam jangka waktu yang amat
panjang memungkinkan lautan menjadi timbunan senyawa organik yang merupakan sop
purba atau Sop Primordial.
Senyawa kompleks yang
tertimbun membentuk sop purba di lautan tersebut selanjutnya berkembang
sehingga memiliki kemampuan dan sifat sebagai berikut:
·
memiliki sejenis
membran yang mampu memisahkan ikatan-ikatan kompleks yang terbentuk dengan
molekul-molekul organik yang terdapat disekelilingnya;
·
memiliki
kemampuan untuk menyerap dan mengeluarkan molekil-molekul dari dan ke
sekelilingnya;
·
memiliki
kemampuan untuk memanfaatkan molekul-molekul yang diserap sesuai denagn
pola-pola ikatan didalamnya;
·
mempunyai
kemampuan untuk memisahkan bagian-bagian dari ikatan-ikatannya. Kemampuan
semacam ini oleh para ahli dianggap sebagai kemampuan untuk berkembang biak
yang pertama kali.
Senyawa kompleks dengan
sifat-sifat tersebut diduga sebagai kehidupan yang pertamakali terbentuk. Jadi
senyawa kompleks yang merupakan perkembangan dari sop purba tersebut telah
memiliki sifat-sifat hidup seperti nutrisi, ekskresi, mampu mengadan
metabolisme, dan mempunayi kemampuan memperbanyak diri atau reproduksi.
Walaupun dengan adanya
senyawa-senyawa sederhana serta energi yang berlimpah sehingga dilautan
berlimpah senyawa organik yang lebih kompleks, namun Oparin mengalami kesulitan
untuk menjelaskan mengenai mekanisme transformasi dari molekul-molekul protein
sebagai abenda tak hidup kebenda hidup. Bagaimana senyawa-senyawa organik sop
purba tersebut dapat memiliki kemampuan seperti tersebut diatas ? Oparin
menjelaskan sebagai berikut:
Protein sebagai senyawa
yang bersifat Zwittwer Ion, dapat membentuk kompleks koloid hidrofil (menyerap
air), sehingga molekul protein tersebut dibungkus oleh molekul air. Gumpalan
senyawa kompleks tersebut dapat lepas dari cairan dimana dia berada dan
membentuk emulsi. Penggabunagn struktur emulsi ini akan menghasilkan koloid
yang terpiah dari fase cair dan membentuk timbuna gumpalan atau Koaservat.
Timbunan Koaservat yang
kaya berbagai kompleks organik tersebut memungkinkan terjadinya pertukaran
substansi dengan lingkungannya. Di samping itu secara selektif gumpalan
Koaservat tersebut memusatkan senyawa-senyawa lain kedalamnya terutama
Kristaloid. Komposisi gumpalan koloid tersebut bergantung kepada komposisi
mediumnay. Denagndemikian, perbedaan komposisi medium akan menyebabkan
timbulnya variasi pada komposisi sop purba. Variasi komposisi sop purba
diberbagai areal akan mengarah kepada terbentuknya komposisi kimia Koaservat
yang merupakan penyedia bahan mentah untuk proses biokimia.
Tahap selanjutnya
substansi didalam Koaservat membentuk enzim. Di sekeliling perbatasan antara
Koaservat dengan lingkungannya terjadi penjajaran molekul-molekul Lipida dan
protein sehingga terbentuklah selaput sel primitif. Terbentuknya selaput sel
primitif ini memungkinkan memberikan-stabilitas pada koaservat. Dengan
demikian, kerjasama antara molekul-molekul yang telah ada sebelumnya yang dapat
mereplikasi diri kedalam koaservat dan penagturan kembali Koaservat yang
terbungkus lipida amat mungkin akan mnghasilkan sel primitif.
Kemampuan koaservat
untuk menyerap zat-zat dari medium memungkinkan bertambah besarnya ukuran
koaservat. Kemungkinan selanjutnya memungkinkan terbentuknya organisme
Heterotropik yang mampu mereplikasi diri dan mendapatkan bahan makanan dari sop
Primordial yang kaya akan zat-zat organik.
Teori evolusi biologi
ini banyak diterima oleh para Ilmuwan. Namun, tidak sedikit Ilmuwan yang
membantah tentang interaksi molekul secara acak yang dapat menjadi awal
terbentuknya organisme hidup.
Teori evolusi kimia dan
teori evolusi biologi banyak pendukungnya, namun baru teori evolusi kimia yang
telah dibuktikan secara eksperimental, sedangkan teori evolusi biologi belum
ada yang menguji secara eksperimental.
Seandainya apa yang
dikemukakan dua teori tersebut benar, tetapi belum mampu menjelaskan bagaimana
dan dari mana kehidupan diplanet bumi ini pertama kali muncul. Yang perlu
diingat adalah bahwa kehidupan adalah tidak hanya menyangkut masalah replikas;
(penggandaan diri) atau masalah kehidupan biologis saja, tetapi juga menyangkut
masalah kehidupan rohani. Tentang teori awal mula kehidupan yang menyatakan
organisme pertama kali terbentuk dilautan bisa dipahami dari sudut biologi,
karena molekul-molekul organik yang merupakan sop purba itu tertumpuk dilaut.
D.
Efek Rumah Kaca
1.
Penjelasan
Pengertian sebenarnya
rumah kaca adalah bangunan mirip tenda yag terbuat dari bahan sejenis kaca
untuk menciptakan lingkungan yang selalu hangat bagi tanaman tertentu,
sekalipun pada musim dingin. Cara kerjanya adalah membuat panas matahari yang
masuk ke rumah kaca terperangkap di dalam rumah kaca tersebut. Efek rumah kaca
pada planet bumi merupakan efek pemanasan atmosfer bumi yang mirip dengan cara
kerja rumah kaca terhadap tanaman tersebut.
2.
Efek rumah kaca
Energi panas sinar
matahari yang sampai ke bumi sekitar 30% dipantulkan lagi ke atmosfer. Dari
sejumlah ini sebagian kecil dipantulkan kembali ke bumi. Di atmosfer terdapat
gas-gas tertentu yang memiliki sifat menyerap dan memantulkan energi panas
matahari dalam bentuk sinar inframerah. Jika kadar gas-gas tersebut meningkat
maka pantulan energi panas ke bumi juga meningkat sehingga meningkatkan suhu
atmosfer bumi.
Pengertian efek rumah
kaca adalah peristiwa meningkatnya suhu atmosfer bumi karena panas matahari
yang dipantulkan bumi terperangkap oleh gas-gas tertentu di atmosfer. Gas-gas
yang memerangkap panas matahari yang dipantulkan oleh bumi tersebut disebut
gas-gas rumah kaca.
3.
Contoh Gas-Gas
Rumah Kaca
Molekul-molekul gas
pada atmosfer bumi yang terdiri dari tiga atom atau lebih disebut gas-gas rumah
kaca karena dapat menangkap energi inframerah sinar matahari yang dipantulkan
bumi sehigga meningkatkan suhu atmosfer bumi. Gas-gas rumah kaca antara lain
air (H2O), ozon (O3), karbon dioksida (CO2), dan metana (CH4). Juga dalam kadar
kecil, chloro-fluoro-carbon (CFC) mempengaruhi efek rumah kaca.
4.
Pemanasan Global
Pemanasan global adalah
meningkatnya suhu rata-rata atmosfer bumi yang mempengaruhi iklim di bumi.
Contoh pengaruh meningkatnya suhu
atmosfer bumi terhadap iklim antara lain, berkurangnya jumlah es di kutub
karena mencair, meningkatnya permukaan air laut, perubahan arah angin musiman,
pergeseran musim, dan lain sebagainya.
5.
Penyebab Efek
Rumah Kaca dan Pemanasan Global
Efek rumah kaca dan
pemanasan global disebabkan meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dihasilkan
dari berbagai sumber di bumi. Berikut beberapa penyebab meningkatnya gas-gas
rumah kaca.
·
Pembakaran bahan
bakar fosil (minyak bumi, batu bara, dan gas alam) dari rumah tangga, pabrik, kendaraan
bermotor, dan lain-lain
·
Berkurangnya
hutan yang menjaga keseimbangan karbon dioksida dan oksigen.
·
Peningkatan
penggunaan gas-gas rumah kaca seperti misalnya metana, nitrogen oksida, dan
CFC.
·
Meningkatnya gas
industri dari pabrik-pabrik.
·
Meningkatnya
jumlah penduduk, sehingga meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil.
6.
Cara Mengurangi Efek
Ruah Kaca dan Pemanasan Global
·
Mengurangi
penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara, gas alam)
·
Meningkatkan
penggunaan energi terbarukan (energi surya, energi air, energi angin)
·
Hemat energi
·
Menjaga fungsi
hutan sebagai paru-paru dunia
·
Memilih produk
yang ramah lingkungan
·
Menjaga
kelestarian alam.
Sumber : http://www.seputarilmu.com/2015/11/teori-pembentukan-bumi-menurut-para-ahli.html
http://www.sridianti.com/perbedaan-antara-abiogenesis-dan-biogenesis.html
http://duniabaca.com/teori-teori-awal-mula-kehidupan-di-dunia.html
http://olvista.com/pengertian-efek-rumah-kaca-dan-pemanasan-global/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar