Ilmu Budaya Dasar
Hubungan Manusia dan Harapan
Nurul Fitriyah
18516046
1PA18
Universitas Gunadarma
Fakultas Psikologi
Bekasi
2016
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pada dasarnya manusia dan harapan itu berada dalam satu naungan
atau berdampingan. Setiap manusia pasti mempunyai harapan, manusia tanpa
harapan berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal
sekalipun mempunyai harapan. Harapan bergantung pada pengetahuan, pengalaman,
lingkungan hidup dan kemampuan masing-masing.
Harapan juga harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada
diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Allah SWT. Agar harapan bisa terwujud,
maka manusia harus berusaha dengan sungguh-sungguh dan diikuti dengan berdo’a
kepada Allah SWT. Hal ini disebabkan karena harapan dan kepercayaan tidak dapat
dipisahkan. Harapan dan kepercayaan merupakan bagian dari hidup manusia selama
di dunia karena setiap manusia mempunyai harapan dan kepercayaan kepada Allah
SWT.
B.
Pembatasan
Masalah
1.
Pengertian
Harapan.
2.
Sebab
Manusia Memiliki Harapan.
3.
Hubungan
Harapan dan Kepercayaan.
4.
Hubungan
Manusia dan Harapan.
5.
Contoh
kasus sehari-hari hubungan manusia dan harapan.
C.
Tujuan
Pembahasan
1.
Mengetahui
dan memahami harapan, serta mengetahui apa saja sebab dari manusia memiliki
harapan.
2.
Mengetahui
hubungan antara harapan dan kepercayaan, serta manusia dan harapan.
3.
Mengetahui
contoh kasus yang ada di kehidupan sehari hari di hubungan antara manusia dan
harapan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Harapan
Harapan berasal dari kata harap. Artinya supaya sesuatu yang
terjadi atau sesuatu yang belum terwujud. Sedangkan harapan itu sendiri
mempunyai makna sesuatu yang terkandung dalam hati setiap orang yang merupakan
karunia dari Allah SWT yang sifatnya terpatri dan sukar dilukiskan. Harapan
atau keinginan ituberasda di dalam hati. Putus harapan berarti putus asa. Dan
agar harapan dapat dicapai, memerlukan kepercayaan pada diri sendiri,
kepercayaan kepada orang lain dan kepercayaan kepada Allah SWT.
Harapan atau asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu
yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan berbuah kebaikan
diwaktu yang akan datang. Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak
namun diyakini bahkan terkadang dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud.
Namun ada kalanya harapan tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Pada praktiknya
banyak orang mencoba menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berusaha
dan berdo’a.
Setiap orang mempunyai berbagai cara untuk memenuhi harapannya atau
keinginannya, baik dengan cara yang dibenarkan maupun dengan cara yang dilarang
oleh norma-norma agama dan hukum.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa esensi harapan berbeda dengan
berpikir positif yang merupakan salah satu cara proses sistematis dalam
psikolog untuk menangkal pikiran negatif atau berpikir pesimis.
B.
Sebab
Manusia memiliki Harapan
Menurut kodratnya manusia itu adalah makhluk sosial. Setiap manusia
lahir ke dunia ini langsung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di
tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Di tengah-tengah manusia
lain itulah seseorang dapat hidup dan berkembang fisik dan jasmani, serta
mental dan spiritualnya.Ada dua hal yang mendorong manusia hidup bergaul dengan
manusia lain, yaitu:
1.
Dorongan
Kodrat
Kodrat ialah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah
terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Allah SWT.
Misalnya : menangis, bergembira, berpikir, bercinta, berjalan, berkata, dan
mempunyai keturunan. Setiap diri manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua
dan dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan dan harapan.
Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat
pembawaan dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup
bersama dengan manusia lain. Dengan kodrat ini manusia dapat mempunyai harapan.
2.
Dorongan
Kebutuhan Hidup
Sudah menjadi kodrat bahwa manusia mempunyai bermacam-macam
kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis besarnya dapat dibedakan atas
kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani, misalnya makan,
minum, pakaian, dan rumah. Sedangkan kebutuhan rohani, misalnya kebahagiaan,
kepuasan, keberhasilan, hiburan dan ketenangan.
Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia harus bekerja sama
dengan manusia lain. Hal ini disebabkan karena kemampuan manusia sangat
terbatas, baik kemampuan fisik maupun kemampuan berpikir. Dan dengan adanya
dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai
harapan, karena pada hakekatnya harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.
Sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhan manusia itu, Abraham
Maslow mengkategorikan kebutuhan manusia menjadi macam. Lima macam
kebutuhan itu merupakan lima harapan manusia, yaitu :
Ø Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival).
Ø Harapan untuk memperoleh keamanan (safety).
Ø Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai dan
dicintai (being loving and love).
Ø Harapan untuk memperoleh status atau diterima atau diakui lingkungan
(status).
Ø Harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita
(self-actualization).
C.
Hubungan
Harapan dan Kepercayaan
Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya mengakui atau
meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan
pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Dalam agama terdapat
kebenaran-kebenaran yang dianggap sebagai wahyu dari Allah SWT. Kepercayaan
dalam agama merupakan keyakinan yang paling besar. Dalam hal beragama tiap-tiap
orang wajib menerima dan menghormati kepercayaan orang yang beragama itu,
dasarnya ialah keyakinan masing-masing.
Harapan dan kepercayaan saling melengkapi. Karena dalam memenuhi
atau mewujudkan harapan, manusia harus berusaha dan berdo’a. Dengan berusaha
dan berdo’a sungguh-sungguh kepada Allah
SWT serta mempercayai adanya Allah SWT, harapan akan terwujud dan terpenuhi. Karena
saat harapan tanpa kepercayaan (berdo’a) tidak akan pernah ada bantuan dari
Yang Maha Kuasa dan jika kepercayaan tanpa ada harapan dan usaha maka Allah SWT
pun tidak akan pernah membantu karna Allah SWT tidak akan pernah membantu orang
yang tidak pernah berusaha untuk memperbaiki dan merubah nasibnya.
D.
Hubungan
Manusia dan Harapan
Harapan dalam kehidupan manusia merupakan cita-cita, mimpi,
keinginan, penantian, kerinduan supaya sesuatu itu terjadi. Dalam menantikan
adanya sesuatu yang terjadi dan diharapkan, manusia harus melibatkan manusia
lain atau kekuatan lain di luar dirinya supaya sesuatu yang diinginkan itu akan
terjadi atau terwujud.
Menurut macamnya ada harapan yang optimis dan harapan pesimistis
(tipis harapan). Harapan optimis artinya sesuatu yang akan terjadi itu
sudah memberikan tanda-tanda yang dapat dianalisis secara rasional, bahwa
sesuatu yang diinginkan itu akan terjadi dan muncul pada saatnya. Sedangkan, Harapan
pesimistis justru adanya tanda-tanda rasional bahwa sesuatu yang diinginkan
itu tidak akan terjadi.
Harapan itu ada karena manusia hidup. Manusia hidup penuh dengan
keinginan. Setiap manusia memiliki harapan yang berbeda-beda, orang yang
berpikir luas, harapannya pun akan luas. Begitupun sebaliknya, orang yang
berpikir sempit maka harapannya juga akan sempit. Harapan itu bersifat
manusiawi (wajar) dan dimiliki oleh semua orang.
Jika manusia mengingat bahwa kehidupan tidak hanya di dunia saja
namun di akhirat juga, maka sudah selayaknya harapan manusia untuk hidup di
kedua tempat tersebut bahagia. Dengan begitu manusia dapat menyelaraskan
kehidupan antara dunia dan akhirat, dan selalu berharap bahwa hari esok lebih
baik dari pada hari ini. Namun kita sebagai manusia harus sadar bahwa harapan
tidak selamanya menjadi kenyataan dan terwujud.
Jadi terkadang kita sebagai manusia pun tidak boleh bersikap egois
dengan selalu menginginkan apa yang terjadi haruslah selalu sesuai dengan
keinginan, karena semua yang terjadi pastilah sudah ada yang mengaturnya dan
itulah yang sebenarnya terbaik untuk kita, tetapi ini semua tentu berlaunya
hanya jika seseorang tersebut sudah melakukan usaha yang semaksimal mungkin dan
sudah melakukan doa’a yang sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah SWT. Karena
usaha tidak akan pernah membohongi hasil dan harapan perlu di wujudkan dengan
usaha.
E.
Contoh
Kasus Sehari-hari Hubungan Manusia dan Harapan
1.
Tidak
mendapatkan hadiah yang di harapkan
Saat ulang
tahun seseorang sering kali meminta atau menginginkan sesuatu barang yang sudah
lama ia dambakan untuk dimilikinya akan didapatkannya saat hari istimewa itu,
tetapi terkadang tidakjuga di dapatkannya walaupun sudah meminta untuk di
belikan kepada orang tua, pacar, teman, sahabat, dll. Terkadang kita hanya
menginginkan barang itu atau hal itu tanpa memikirkan untuk apa jika sudah
dimiliki dan tanpa memikirkan efek baik buruk jika kita sudah memiliki hal
tersebut. Seringkali orang akan merasa kecewa saat itu, tetapi jika sudah
mengetahui alasan orang-orang tidak mau mengabulkan keinginan atau permintaan
kita, mungkin kita akan mengerti. Karena faktor-faktor yang mungki menyebabkan
hal itu tidak di dapatka adalah kita tidak akan memanfaatkannya dengan baik,
belum memiliki umur yang cukup untuk mendapatkannya, akan mengganggu proses
belajar, ketidakadaan ekonomi, serta akan memberikan efek-efek negatif lainnya.
2.
Tidak
mendapatkan nilai sesuai dengan keinginan atau harapan
Sering kali
saat ujian, ulangan, uts, dll kita akan mengharapkan untuk mendapatkan nilai
yang tinggi bahkan terkadang mengharapkan menjadi orang yang mendapatkan nilai
tertinggi di antara semua orang. Tetapi tidak jarang pula bahwa kita akan
mendapatkan nilai yang ternyata sangat jauh dari harapan, lalu kita akan merasa
sangat kecewa tidak sedikit pula yang bisa saja menangis. Tetapi mungkin saja ini
terjadi karena usaha kita yang kurang dan tidak sebanding dengan harapan, atau
mungkin jika kita mendapatkan nilai yang tinggi kita akan terlalu sombong dan
menimbulkan sifat-sifat jelek lainnya.
3.
Tidak
mendapatkan universitas dan jurusan yang di harapkan
Hal ini tidak
sedikit dijumpai saat ini, banyak orang yang mengharapkan dan mengidam-idamkan
universitas dan jurusan yang sangat diinginkan bahkan mungkin itu adalah mimpi
sejak kecil. Saat tiba hari dimana pengumuman hasil ternyata nama kita tidak
ada, kecewa ? sudah pasti tidak ada orang yang tidak kecewa saat cita-cita dan
harapan serta impian sejak lamanya pupus hanya dalam sekejap. Tetapi mungkin
alasan-alasan kita tidak mendapatkannya pun sebenarnya ada mungkin Allah SWT
telah menyediakan sesuatu yang lebih indah di ujung usaha dan do’a kita nanti. Karena
Allah SWT memberikan apa yang kita butuhkan bukan kita inginkan.
4.
Tidak
mendapatkan seseorang yang diharapkan
Saat ini, setiap orang mungkin
mengalami hal ini. Menaruh harapan pada seseorang entah itu lawan jenis untuk
dijadikan kekasih ataupun sesama jenis untuk dijadikan seorang sahabat. Saat orang
yang kita harapkan tersebut menolak kita dengan alasan-alasan yang menurut kita
tidak masuk akal. Bahkan terkadang saat kita sudah mendapatkan orang tersebut
tetapi kita di sakiti dengan cara dikhianati, di tusuk dari belakang atau
mungkin di selingkuhi. Tetapi alasan kita tidak mendapatkan atau tidak bisa
bersama dengan orang-orang tersebut mungkin karena jika kita terus bersama
mereka, mereka akan terus memberikan penyiksaan atau sesuatu hal yang
menyakitkan di dalam hidup kita.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pada dasarnya manusia dan harapan itu berada dalam satu naungan
atau berdampingan. Setiap manusia pasti mempunyai harapan, manusia tanpa
harapan berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal
sekalipun mempunyai harapan. Harapan bergantung pada pengetahuan, pengalaman,
lingkungan hidup dan kemampuan masing-masing.nNamun ada kalanya harapan
tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Pada praktiknya banyak orang mencoba
menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berusaha dan berdo’a.
Harapan seseorang juga ditentukan oleh kiprah usaha atau bekerja
kerasnya seseorang. Orang yang bekerja keras akan mempunyai harapan yang besar.
Dan untuk memperoleh harapan yang besar tetapi kemampuannya kurang, biasanya
disertai dengan unsur dalam, yaitu berdo’a.
B.
Saran
Dalam setiap kehidupan manusia yang pastinya mempunyai harapan,
kita tidak boleh menyerah untuk mewujudkan harapan tersebut. Karena harapan dan
keinginan itu lah yang membuat hidup kita menjadi berarti di dunia ini, yang
terus memberikan dorongan agar kita tetap melakukan dan memberikan yang terbaik
dalam setiap pekerjaan.
Selain itu kita juga harus berpedoman terhadap kepercayaan kepada
Allah SWT, yaitu dengan berusaha dan berdo’a yang seimbang. Dan diharapkan kita
dapat mewujudkan apa yang kita inginkan dengan tetap berada dalam norma-norma
masyarakat yang berlaku dan tidak merugikan orang lain. Selain itu juga untuk
mempersiapkan mental kita jika harapan yang diinginkan tidak tercapai, sehingga
tidak membuat kita putus asa untuk selalu terus mecoba.
Daftar Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Harapan
https://yogiearieffadillah.wordpress.com/2013/06/23/manusia-dan-harapan/
http://rulrul.wordpress.com/2011/03/16/rangkuman-ibd-manusia-dan-harapan/
http://ilmubudayadasarardhi.blogspot.co.id/2012/11/manusia-dan-harapan.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar