Selasa, 15 November 2016

Hubungan Manusia dan Harapan

Ilmu Budaya  Dasar
Hubungan Manusia dan Harapan
Nurul Fitriyah
18516046
1PA18



Universitas Gunadarma
Fakultas Psikologi
Bekasi
2016







BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada dasarnya manusia dan harapan itu berada dalam satu naungan atau berdampingan. Setiap manusia pasti mempunyai harapan, manusia tanpa harapan berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan. Harapan bergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuan masing-masing.
Harapan juga harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Allah SWT. Agar harapan bisa terwujud, maka manusia harus berusaha dengan sungguh-sungguh dan diikuti dengan berdo’a kepada Allah SWT. Hal ini disebabkan karena harapan dan kepercayaan tidak dapat dipisahkan. Harapan dan kepercayaan merupakan bagian dari hidup manusia selama di dunia karena setiap manusia mempunyai harapan dan kepercayaan kepada Allah SWT.

B.     Pembatasan Masalah
1.      Pengertian Harapan.
2.      Sebab Manusia Memiliki Harapan.
3.      Hubungan Harapan dan Kepercayaan.
4.      Hubungan Manusia dan Harapan.
5.      Contoh kasus sehari-hari hubungan manusia dan harapan.

C.     Tujuan Pembahasan
1.      Mengetahui dan memahami harapan, serta mengetahui apa saja sebab dari manusia memiliki harapan.
2.      Mengetahui hubungan antara harapan dan kepercayaan, serta manusia dan harapan.
3.      Mengetahui contoh kasus yang ada di kehidupan sehari hari di hubungan antara manusia dan harapan.








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Harapan
Harapan berasal dari kata harap. Artinya supaya sesuatu yang terjadi atau sesuatu yang belum terwujud. Sedangkan harapan itu sendiri mempunyai makna sesuatu yang terkandung dalam hati setiap orang yang merupakan karunia dari Allah SWT yang sifatnya terpatri dan sukar dilukiskan. Harapan atau keinginan ituberasda di dalam hati. Putus harapan berarti putus asa. Dan agar harapan dapat dicapai, memerlukan kepercayaan pada diri sendiri, kepercayaan kepada orang lain dan kepercayaan kepada Allah SWT.
Harapan atau asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan berbuah kebaikan diwaktu yang akan datang. Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak namun diyakini bahkan terkadang dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud. Namun ada kalanya harapan tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Pada praktiknya banyak orang mencoba menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berusaha dan berdo’a.
Setiap orang mempunyai berbagai cara untuk memenuhi harapannya atau keinginannya, baik dengan cara yang dibenarkan maupun dengan cara yang dilarang oleh norma-norma agama dan hukum.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa esensi harapan berbeda dengan berpikir positif yang merupakan salah satu cara proses sistematis dalam psikolog untuk menangkal pikiran negatif atau berpikir pesimis.

B.     Sebab Manusia memiliki Harapan
Menurut kodratnya manusia itu adalah makhluk sosial. Setiap manusia lahir ke dunia ini langsung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Di tengah-tengah manusia lain itulah seseorang dapat hidup dan berkembang fisik dan jasmani, serta mental dan spiritualnya.Ada dua hal yang mendorong manusia hidup bergaul dengan manusia lain, yaitu:

1.      Dorongan Kodrat
Kodrat ialah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Allah SWT. Misalnya : menangis, bergembira, berpikir, bercinta, berjalan, berkata, dan mempunyai keturunan. Setiap diri manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua dan dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan dan harapan.
Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup bersama dengan manusia lain. Dengan kodrat ini manusia dapat mempunyai harapan.

2.      Dorongan Kebutuhan Hidup
Sudah menjadi kodrat bahwa manusia mempunyai bermacam-macam kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis besarnya dapat dibedakan atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani, misalnya makan, minum, pakaian, dan rumah. Sedangkan kebutuhan rohani, misalnya kebahagiaan, kepuasan, keberhasilan, hiburan dan ketenangan.
Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia harus bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan karena kemampuan manusia sangat terbatas, baik kemampuan fisik maupun kemampuan berpikir. Dan dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan, karena pada hakekatnya harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 
Sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhan manusia itu, Abraham Maslow mengkategorikan kebutuhan manusia menjadi macam. Lima macam kebutuhan itu merupakan lima harapan manusia, yaitu :
Ø  Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup (survival).
Ø  Harapan untuk memperoleh keamanan (safety).
Ø  Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai dan dicintai (being loving and love).
Ø  Harapan untuk memperoleh status atau diterima atau diakui lingkungan (status).
Ø  Harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita (self-actualization).

C.     Hubungan Harapan dan Kepercayaan
Kepercayaan berasal dari kata percaya, artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Dalam agama terdapat kebenaran-kebenaran yang dianggap sebagai wahyu dari Allah SWT. Kepercayaan dalam agama merupakan keyakinan yang paling besar. Dalam hal beragama tiap-tiap orang wajib menerima dan menghormati kepercayaan orang yang beragama itu, dasarnya ialah keyakinan masing-masing.
Harapan dan kepercayaan saling melengkapi. Karena dalam memenuhi atau mewujudkan harapan, manusia harus berusaha dan berdo’a. Dengan berusaha dan berdo’a sungguh-sungguh  kepada Allah SWT serta mempercayai adanya Allah SWT, harapan akan terwujud dan terpenuhi. Karena saat harapan tanpa kepercayaan (berdo’a) tidak akan pernah ada bantuan dari Yang Maha Kuasa dan jika kepercayaan tanpa ada harapan dan usaha maka Allah SWT pun tidak akan pernah membantu karna Allah SWT tidak akan pernah membantu orang yang tidak pernah berusaha untuk memperbaiki dan merubah nasibnya.

D.    Hubungan Manusia dan Harapan
Harapan dalam kehidupan manusia merupakan cita-cita, mimpi, keinginan, penantian, kerinduan supaya sesuatu itu terjadi. Dalam menantikan adanya sesuatu yang terjadi dan diharapkan, manusia harus melibatkan manusia lain atau kekuatan lain di luar dirinya supaya sesuatu yang diinginkan itu akan terjadi atau terwujud.
Menurut macamnya ada harapan yang optimis dan harapan pesimistis (tipis harapan). Harapan optimis artinya sesuatu yang akan terjadi itu sudah memberikan tanda-tanda yang dapat dianalisis secara rasional, bahwa sesuatu yang diinginkan itu akan terjadi dan muncul pada saatnya. Sedangkan, Harapan pesimistis justru adanya tanda-tanda rasional bahwa sesuatu yang diinginkan itu tidak akan terjadi.
Harapan itu ada karena manusia hidup. Manusia hidup penuh dengan keinginan. Setiap manusia memiliki harapan yang berbeda-beda, orang yang berpikir luas, harapannya pun akan luas. Begitupun sebaliknya, orang yang berpikir sempit maka harapannya juga akan sempit. Harapan itu bersifat manusiawi (wajar) dan dimiliki oleh semua orang.
Jika manusia mengingat bahwa kehidupan tidak hanya di dunia saja namun di akhirat juga, maka sudah selayaknya harapan manusia untuk hidup di kedua tempat tersebut bahagia. Dengan begitu manusia dapat menyelaraskan kehidupan antara dunia dan akhirat, dan selalu berharap bahwa hari esok lebih baik dari pada hari ini. Namun kita sebagai manusia harus sadar bahwa harapan tidak selamanya menjadi kenyataan dan terwujud.
Jadi terkadang kita sebagai manusia pun tidak boleh bersikap egois dengan selalu menginginkan apa yang terjadi haruslah selalu sesuai dengan keinginan, karena semua yang terjadi pastilah sudah ada yang mengaturnya dan itulah yang sebenarnya terbaik untuk kita, tetapi ini semua tentu berlaunya hanya jika seseorang tersebut sudah melakukan usaha yang semaksimal mungkin dan sudah melakukan doa’a yang sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah SWT. Karena usaha tidak akan pernah membohongi hasil dan harapan perlu di wujudkan dengan usaha.

E.     Contoh Kasus Sehari-hari Hubungan Manusia dan Harapan
1.      Tidak mendapatkan hadiah yang di harapkan
Saat ulang tahun seseorang sering kali meminta atau menginginkan sesuatu barang yang sudah lama ia dambakan untuk dimilikinya akan didapatkannya saat hari istimewa itu, tetapi terkadang tidakjuga di dapatkannya walaupun sudah meminta untuk di belikan kepada orang tua, pacar, teman, sahabat, dll. Terkadang kita hanya menginginkan barang itu atau hal itu tanpa memikirkan untuk apa jika sudah dimiliki dan tanpa memikirkan efek baik buruk jika kita sudah memiliki hal tersebut. Seringkali orang akan merasa kecewa saat itu, tetapi jika sudah mengetahui alasan orang-orang tidak mau mengabulkan keinginan atau permintaan kita, mungkin kita akan mengerti. Karena faktor-faktor yang mungki menyebabkan hal itu tidak di dapatka adalah kita tidak akan memanfaatkannya dengan baik, belum memiliki umur yang cukup untuk mendapatkannya, akan mengganggu proses belajar, ketidakadaan ekonomi, serta akan memberikan efek-efek negatif lainnya.

2.      Tidak mendapatkan nilai sesuai dengan keinginan atau harapan
Sering kali saat ujian, ulangan, uts, dll kita akan mengharapkan untuk mendapatkan nilai yang tinggi bahkan terkadang mengharapkan menjadi orang yang mendapatkan nilai tertinggi di antara semua orang. Tetapi tidak jarang pula bahwa kita akan mendapatkan nilai yang ternyata sangat jauh dari harapan, lalu kita akan merasa sangat kecewa tidak sedikit pula yang bisa saja menangis. Tetapi mungkin saja ini terjadi karena usaha kita yang kurang dan tidak sebanding dengan harapan, atau mungkin jika kita mendapatkan nilai yang tinggi kita akan terlalu sombong dan menimbulkan sifat-sifat jelek lainnya.

3.      Tidak mendapatkan universitas dan jurusan yang di harapkan
Hal ini tidak sedikit dijumpai saat ini, banyak orang yang mengharapkan dan mengidam-idamkan universitas dan jurusan yang sangat diinginkan bahkan mungkin itu adalah mimpi sejak kecil. Saat tiba hari dimana pengumuman hasil ternyata nama kita tidak ada, kecewa ? sudah pasti tidak ada orang yang tidak kecewa saat cita-cita dan harapan serta impian sejak lamanya pupus hanya dalam sekejap. Tetapi mungkin alasan-alasan kita tidak mendapatkannya pun sebenarnya ada mungkin Allah SWT telah menyediakan sesuatu yang lebih indah di ujung usaha dan do’a kita nanti. Karena Allah SWT memberikan apa yang kita butuhkan bukan kita inginkan.

4.      Tidak mendapatkan seseorang yang diharapkan
Saat ini, setiap orang mungkin mengalami hal ini. Menaruh harapan pada seseorang entah itu lawan jenis untuk dijadikan kekasih ataupun sesama jenis untuk dijadikan seorang sahabat. Saat orang yang kita harapkan tersebut menolak kita dengan alasan-alasan yang menurut kita tidak masuk akal. Bahkan terkadang saat kita sudah mendapatkan orang tersebut tetapi kita di sakiti dengan cara dikhianati, di tusuk dari belakang atau mungkin di selingkuhi. Tetapi alasan kita tidak mendapatkan atau tidak bisa bersama dengan orang-orang tersebut mungkin karena jika kita terus bersama mereka, mereka akan terus memberikan penyiksaan atau sesuatu hal yang menyakitkan di dalam hidup kita. 








BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pada dasarnya manusia dan harapan itu berada dalam satu naungan atau berdampingan. Setiap manusia pasti mempunyai harapan, manusia tanpa harapan berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan. Harapan bergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuan masing-masing.nNamun ada kalanya harapan tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Pada praktiknya banyak orang mencoba menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berusaha dan berdo’a.
Harapan seseorang juga ditentukan oleh kiprah usaha atau bekerja kerasnya seseorang. Orang yang bekerja keras akan mempunyai harapan yang besar. Dan untuk memperoleh harapan yang besar tetapi kemampuannya kurang, biasanya disertai dengan unsur dalam, yaitu berdo’a.

B.     Saran
Dalam setiap kehidupan manusia yang pastinya mempunyai harapan, kita tidak boleh menyerah untuk mewujudkan harapan tersebut. Karena harapan dan keinginan itu lah yang membuat hidup kita menjadi berarti di dunia ini, yang terus memberikan dorongan agar kita tetap melakukan dan memberikan yang terbaik dalam setiap pekerjaan.
Selain itu kita juga harus berpedoman terhadap kepercayaan kepada Allah SWT, yaitu dengan berusaha dan berdo’a yang seimbang. Dan diharapkan kita dapat mewujudkan apa yang kita inginkan dengan tetap berada dalam norma-norma masyarakat yang berlaku dan tidak merugikan orang lain. Selain itu juga untuk mempersiapkan mental kita jika harapan yang diinginkan tidak tercapai, sehingga tidak membuat kita putus asa untuk selalu terus mecoba.









Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Harapan
https://yogiearieffadillah.wordpress.com/2013/06/23/manusia-dan-harapan/
http://rulrul.wordpress.com/2011/03/16/rangkuman-ibd-manusia-dan-harapan/

http://ilmubudayadasarardhi.blogspot.co.id/2012/11/manusia-dan-harapan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar